Lhokseumawe: Memprihatinkan. Seorang dosen di sebuah akademi di Lhokseumawe, , RE (35), bukannya memberi contoh yang baik, tetapi malah menjadi tersangka kasus persewaan komik porno. Rabu (22/6/2011) siang RE diserahkan ke Kejaksaan Negeri Lhokseumawe setelah diperiksa penyidik Polsek Banda Sakti.
Polisi juga melimpahkan berkas dan barang bukti berupa 20 buah komik.
Kajari Lhokseumawe Tomo SH melalui Jaksa Penuntut Umum (JPU) Saifuddin SH MH kepada Serambinews.com, mengatakan, dalam pemeriksaan awal, tersangka mengaku komik tersebut tidak bernuansa porno.
Namun, dari barang bukti, kata Saifuddin, jelas dalam komik itu terdapat gambar yang bernuasa pornografi. Di antaranya, foto wanita telanjang dan gambar lain yang tak bisa ditonton anak-anak di bawah umur. Karena bisa mendorong mereka kearah yang tidak baik.
Menurut JPU Kejari Lhokseumawe, RE yang ditangkap pada Selasa (26/4/) lalu, tidak ditahan. Karena adanya pertimbangan bahwa sebelumnya juga tidak ditahan. Selain itu ada permintaan rekan kerja tersangka yang bisa menjamin tersangka tidak akan lari.
Kecuali itu, dalam persidangan, tersangka kooperatif. ”Tersangka dijerat dengan Pasal 29 dan 30 juncto Pasal 4 Undang Undang nomor 44 tahun 2009, tentang pornografi dengan ancaman maksimal 12 tahun penjara,” papar Saifuddin, SH.
Selengkapnya...
Kamis, 23 Juni 2011
Kakak Keradik Tewas Terpanggang3
Surabaya: Kisah tragis dialami dua bocah tak berdosa. Kartika Agustin Andika Sari dan Javier Ramadhani Alfarizi harus mengembuskan nafas terakhirnya setelah keduanya tewas dalam kebakaran yang melalap rumah milik Mujayanah (45), janda empat anak warga Desa Prambon RT 3/RW 1 Kecamatan Prambon, Sidoarjo, Selasa (21/6) dini hari.
Kartika Agustin Andika Sari (12) alias Dika adalah anak ketiga Mujayanah, sementara Javier Ramadhani Alfarizi (1 tahun, 11 bulan) atau akrab dipanggil Dhani adalah salah satu cucunya. Mujayanah sendiri bersama dua cucunya juga menderita luka bakar serius dan kini tengah dirawat intensif di RSUD dr Soekandar Kecamatan Mojosari Mojokerto.
Kebakaran yang melanda rumah Mujayanah, diperkirakan terjadi sekitar pukul 01.30 WIB. Saat itu, sejumlah pemuda desa setempat yang cangkrukan tidak jauh dari rumah Mujayanah sontak kaget mendengar Mujayanah dan salah satu anaknya, Rosita Dwi Damayanti (20) berteriak-teriak meminta tolong. “Warga lalu berhamburan ke rumah itu,” ucap H Nur Kholis, Ketua RT 3/RW 1 Desa Prambon, di lokasi kejadian.
Sejumlah warga lalu berusaha memadamkan api dengan air seadanya. Mereka saling membahu menyiramkan api ke rumah yang posisinya berimpitan dan hanya dipisahkan jarak 1 meter dengan rumah lainnya tersebut.
Sementara warga lainnya berusaha menyelamatkan sejumlah penghuni rumah, yang di antaranya anak-anak. “Begitu lihat Dhani, saya langsung gendong keluar rumah,” ucap Jumain, warga setempat.
Saat kebakaran mulai berlangsung, listrik pun langsung padam. Entah kenapa, api dengan cepat membesar hingga menghanguskan sejumlah ruangan di rumah tersebut.
Diduga kuat, api memercik dari ruang tengah, di mana Dika tengah tidur pulas di atas kasur spon dan di depannya ada sebuah TV. “Setelah itu ruangan rumah jadi gelap,” ucap seorang warga lainnya.
Nuryamah (47), kakak ipar Mujayanah mengaku, tidak mengetahui asal mula api. Tahu-tahu dirinya mendengar suara teriakan meminta tolong karena ada kebakaran.
Wanita yang tinggal di depan rumah Mujayanah ini pun ikut bingung karena kondisi gelap. “Saya sempat mendengar ledakan beberapa kali dari rumah itu,” ucapnya lirih.
Suara ledakan tersebut diduga berasal dari tabung elpiji kemasan 3 kilogram yang disebutnya berjumlah 10 buah. Tabung elpiji ini berada di teras depan rumah Mujayanah yang selama ini juga berfungsi sebagai toko pracangan. “Bisa jadi api cepat besar karena ledakan elpiji tersebut,” duga beberapa warga yang bergerombol dekat rumah korban.
Hampir tiga jam api membakar hingga menghanguskan rumah itu. Dibantu ratusan warga, satu unit mobil pemadam PT Pakerin akhirnya ikut memadamkan api.
Dua kali mobil pemadam ini menumpahkan isinya menyemprot kobaran api. “Api lalu padam sekitar pukul 04.30 WIB,” beber H Nur Kholis diamini beberapa warga lainnya.
Kata Nur Kholis, dirinya juga ikut membawa Dhani, anak pertama Rosita Dwi Damayanti (20), yang juga cucu Mujayanah. Saat itu kondisi bocah lelaki itu sudah kritis karena hampir sekujur tubuhnya terjilat api.
“Semula kami bawa ke Puskesmas Prambon, namun karena kondisinya parah lalu dirujuk ke RS Mojosari, namun akhirnya dia (Dhani) meninggal pukul 02.00 WIB,” jelas Nur Kholis.
Sedangkan korban Dika, baru diketahui sekitar tiga jam saat api sudah padam. “Saat kebakaran berlangsung, Dika tidak ditemukan meski dicari keluarganya. Ia baru ketemu setelah api padam,” ujarnya.
Menurut beberapa warga, kondisi Dika sangat mengenaskan. Sejumlah jari jemari kaki dan tangannya hangus. Posisi badannya tampak memeluk bantal yang juga tak berbentuk lagi.
Diperkirakan, korban yang baru lulus Unas SD itu langsung tersambar api, karena ada dugaan sumber api berasal dari lokasi Dika, yang tidur sendirian di atas kasur busa. Sedangkan saat kebakaran berlangsung, diduga posisi Mujayanah tengah tidur dengan Miftahul Anggara Putra (5), anak bungsunya, dan dua cucunya, yakni Fabian Ibrahim (2) dan Sabrina Aisalwa (5).
Berempat mereka tidur di kamar nomor dua. Saat kebakaran terjadi, Anggara dan Sabrina lari sendiri menyelamatkan diri.
Sedangkan Fabian diselamatkan warga yang ikut memadamkan api kebakaran itu. Sementara, Dhani yang akhirnya tewas di rumah sakit, saat kejadian tengah tidur dalam pelukan sang bunda, yakni Rosita Dwi Damayanti, alias Sita. Namun Dhani akhirnya diselamatkan warga bernama Jumain karena saat kejadian Sita tengah keluar minta tolong warga.
Mujayati, adik Mujayanah tidak menyangka musibah itu bakal menimpa kerabatnya. Dirinya juga tidak pernah menerima firasat apapun sebelum kejadian berlangsung.
Saat kebakaran terjadi, dirinya sempat mendengar suara tangisan Dhani. “Saat itu api sudah membakar,” ujarnya menangis sesenggukan mengenang kepergian Dhani dan Dika.
Keluarga sangat kehilangan dengan meninggalnya dua bocah itu. Menurut Mujayati, Dhani sudah tumbuh sebagai bocah yang lucu. Sedangkan Dika dikenal pintar dengan prestasi sekolahnya.
“Dia juga pintar mengaji,” ucapnya seraya menenangkan Sita, ibunda Dhani yang terus meratapi perginya sang buah hati. Sita sendiri seorang janda yang baru bercerai dengan suaminya dua tahun lalu.
Hingga kini belum diketahui pasti pemicu kebakaran. Ada dugaan api berasal dari terbakarnya kasur spon yang terpercik obat nyamuk yang menyala di ruangan tengah, di mana Dika tidur pulas.
Namun versi lain menyebut, sumber api berasal dari konslet listrik dan menyambar tumpukan tabung elpiji. “Kami belum bisa memastikan penyebab kebakaran. Kami masih menyelidiki kejadian ini,” ucap Kapolsek Prambon, AKP Wagiran. Selengkapnya...
Kartika Agustin Andika Sari (12) alias Dika adalah anak ketiga Mujayanah, sementara Javier Ramadhani Alfarizi (1 tahun, 11 bulan) atau akrab dipanggil Dhani adalah salah satu cucunya. Mujayanah sendiri bersama dua cucunya juga menderita luka bakar serius dan kini tengah dirawat intensif di RSUD dr Soekandar Kecamatan Mojosari Mojokerto.
Kebakaran yang melanda rumah Mujayanah, diperkirakan terjadi sekitar pukul 01.30 WIB. Saat itu, sejumlah pemuda desa setempat yang cangkrukan tidak jauh dari rumah Mujayanah sontak kaget mendengar Mujayanah dan salah satu anaknya, Rosita Dwi Damayanti (20) berteriak-teriak meminta tolong. “Warga lalu berhamburan ke rumah itu,” ucap H Nur Kholis, Ketua RT 3/RW 1 Desa Prambon, di lokasi kejadian.
Sejumlah warga lalu berusaha memadamkan api dengan air seadanya. Mereka saling membahu menyiramkan api ke rumah yang posisinya berimpitan dan hanya dipisahkan jarak 1 meter dengan rumah lainnya tersebut.
Sementara warga lainnya berusaha menyelamatkan sejumlah penghuni rumah, yang di antaranya anak-anak. “Begitu lihat Dhani, saya langsung gendong keluar rumah,” ucap Jumain, warga setempat.
Saat kebakaran mulai berlangsung, listrik pun langsung padam. Entah kenapa, api dengan cepat membesar hingga menghanguskan sejumlah ruangan di rumah tersebut.
Diduga kuat, api memercik dari ruang tengah, di mana Dika tengah tidur pulas di atas kasur spon dan di depannya ada sebuah TV. “Setelah itu ruangan rumah jadi gelap,” ucap seorang warga lainnya.
Nuryamah (47), kakak ipar Mujayanah mengaku, tidak mengetahui asal mula api. Tahu-tahu dirinya mendengar suara teriakan meminta tolong karena ada kebakaran.
Wanita yang tinggal di depan rumah Mujayanah ini pun ikut bingung karena kondisi gelap. “Saya sempat mendengar ledakan beberapa kali dari rumah itu,” ucapnya lirih.
Suara ledakan tersebut diduga berasal dari tabung elpiji kemasan 3 kilogram yang disebutnya berjumlah 10 buah. Tabung elpiji ini berada di teras depan rumah Mujayanah yang selama ini juga berfungsi sebagai toko pracangan. “Bisa jadi api cepat besar karena ledakan elpiji tersebut,” duga beberapa warga yang bergerombol dekat rumah korban.
Hampir tiga jam api membakar hingga menghanguskan rumah itu. Dibantu ratusan warga, satu unit mobil pemadam PT Pakerin akhirnya ikut memadamkan api.
Dua kali mobil pemadam ini menumpahkan isinya menyemprot kobaran api. “Api lalu padam sekitar pukul 04.30 WIB,” beber H Nur Kholis diamini beberapa warga lainnya.
Kata Nur Kholis, dirinya juga ikut membawa Dhani, anak pertama Rosita Dwi Damayanti (20), yang juga cucu Mujayanah. Saat itu kondisi bocah lelaki itu sudah kritis karena hampir sekujur tubuhnya terjilat api.
“Semula kami bawa ke Puskesmas Prambon, namun karena kondisinya parah lalu dirujuk ke RS Mojosari, namun akhirnya dia (Dhani) meninggal pukul 02.00 WIB,” jelas Nur Kholis.
Sedangkan korban Dika, baru diketahui sekitar tiga jam saat api sudah padam. “Saat kebakaran berlangsung, Dika tidak ditemukan meski dicari keluarganya. Ia baru ketemu setelah api padam,” ujarnya.
Menurut beberapa warga, kondisi Dika sangat mengenaskan. Sejumlah jari jemari kaki dan tangannya hangus. Posisi badannya tampak memeluk bantal yang juga tak berbentuk lagi.
Diperkirakan, korban yang baru lulus Unas SD itu langsung tersambar api, karena ada dugaan sumber api berasal dari lokasi Dika, yang tidur sendirian di atas kasur busa. Sedangkan saat kebakaran berlangsung, diduga posisi Mujayanah tengah tidur dengan Miftahul Anggara Putra (5), anak bungsunya, dan dua cucunya, yakni Fabian Ibrahim (2) dan Sabrina Aisalwa (5).
Berempat mereka tidur di kamar nomor dua. Saat kebakaran terjadi, Anggara dan Sabrina lari sendiri menyelamatkan diri.
Sedangkan Fabian diselamatkan warga yang ikut memadamkan api kebakaran itu. Sementara, Dhani yang akhirnya tewas di rumah sakit, saat kejadian tengah tidur dalam pelukan sang bunda, yakni Rosita Dwi Damayanti, alias Sita. Namun Dhani akhirnya diselamatkan warga bernama Jumain karena saat kejadian Sita tengah keluar minta tolong warga.
Mujayati, adik Mujayanah tidak menyangka musibah itu bakal menimpa kerabatnya. Dirinya juga tidak pernah menerima firasat apapun sebelum kejadian berlangsung.
Saat kebakaran terjadi, dirinya sempat mendengar suara tangisan Dhani. “Saat itu api sudah membakar,” ujarnya menangis sesenggukan mengenang kepergian Dhani dan Dika.
Keluarga sangat kehilangan dengan meninggalnya dua bocah itu. Menurut Mujayati, Dhani sudah tumbuh sebagai bocah yang lucu. Sedangkan Dika dikenal pintar dengan prestasi sekolahnya.
“Dia juga pintar mengaji,” ucapnya seraya menenangkan Sita, ibunda Dhani yang terus meratapi perginya sang buah hati. Sita sendiri seorang janda yang baru bercerai dengan suaminya dua tahun lalu.
Hingga kini belum diketahui pasti pemicu kebakaran. Ada dugaan api berasal dari terbakarnya kasur spon yang terpercik obat nyamuk yang menyala di ruangan tengah, di mana Dika tidur pulas.
Namun versi lain menyebut, sumber api berasal dari konslet listrik dan menyambar tumpukan tabung elpiji. “Kami belum bisa memastikan penyebab kebakaran. Kami masih menyelidiki kejadian ini,” ucap Kapolsek Prambon, AKP Wagiran. Selengkapnya...
Rabu, 22 Juni 2011
Gunung Batur Gempa, Puluhan Ton Ikan Mati
Bangli: Danau Batur yang terletak di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali saat ini dalam kondisi tercemar. Dalam tiga hari terakhir terhitung sejak Senin 20 Juni 2011, puluhan ton ikan dari berbagai jenis dan berbagai ukuran mati mendadak.
Saat ini, para petani dan warga di Desa Songan, Desa Buahan, Desa Kedisan, Batur dan beberapa desa lainnya yang terletak di pinggir Danau Batur sibuk mengumpulkan bangkai ikan karena bau tak sedap. Jumlahnya sangat banyak.
Jenis ikan yang mati antara lain mujair, kaper, udang, dan sebagainya terpaung di atas danau dan mati mendadak. Bahkan, nelayan Danau Batur yang memiliki keramba penangkapan ikan hanya berhasil mengumpulkan ikan mati untuk dievakuasi ke darat.
Menurut Kepala Laboratorium Lingkungan Hidup Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Bali, Gede Suarjana, sekalipun belum ada uji laboratorium, kemungkinan ikan-ikan tersebut mati lantaran dipicu belerang berlebihan karena terjadinya gempa dengan skala kecil pada Gunung Batur.
Pantauan sementara di lapangan menunjukkan, warna air berubah menjadi keputih-putihan.
Menurut Suarjana perubahan tersebut terjadi gempa bumi pada Senin 20 Juni 2011 dini hari. "Dari penuturan warga, sempat terjadi gempa kecil di sana. Diduga gempa tersebut yang membuat sulfur dan belerang Gunung Batur turun ke danau dan menyebabkan ikan-ikan mati," tuturnya, Selasa 21 Juni 2011.
Bila perubahan warna air tersebut disebabkan letusan Gunung Batur, di dasar danau hampir dipastikan kekurangan oksigen bagi ikan dan hewan atau tumbuhan lainnya. Kekurangan oksigen tersebut akibat dari meningkatnya sulfurdioksida (So2) serta jenis-jenis logam lainnya.
Meningkatnya So2 disebabkan oleh kadar belerang yang tinggi, sehingga menyebabkan racun bagi ikan dan makluk hidup lainnya di danau. "Ini fenomena alam yang terjadi secara mendadak dan menyebabkan sulitnya makluk hidup untuk mendapatkan oksigen secara sempurna," ujarnya.
Penyebab lain kemungkinan besar, PH-nya rendah, keasaman meningkat dan ikan akan banyak yang mati. Kondisi ini juga bisa disebabkan oleh pencemaran limbah masyarakat, pakan ikan dari keramba nelayan yang membusuk dan sebagainya sehingga kandungan fosfor (f4) meningkat tajam.
"Namun, dari informasi lapangan yang diterima, kemungkinan besar akibat letusan gunung api yang terjadi dasar danau karena terjadi gempa sebelum perubahan warna air," ujarnya.
Sementara itu, dihubungi terpisah, Kepala Bidang Informasi dan Data BMKG Bali, Endro Tjahono mengatakan, dugaan gempa yang terjadi pada Gunung Batur tak tercatat pada pusat data di BMKG. "Saya sudah tanyakan kepada bagian Regional Gempa III. Ternyata, gempa yang dikatakan terjadi pada Gunung Batur tidak tercatat pada BMKG," katanya.
Endro menuturkan, gempa sendiri bisa terjadi karena beberapa faktor. Bisa karena pergeseran lempeng bumi, bisa karena pergerakan vulkanik pada gunung berapi dan juga gempa karena terjadinya reruntuhan akibat tambang.
"BMKG mencatat gempa, karena pergeseran lempeng bumi. Untuk di Gunung Batur, silakan hubungi Dirjen Vulkanologi. Mereka yang mencatatnya. Sekali lagi kami tegaskan, gempa di Gunung Batur tidak tercatat pada BMKG," ujar Endro.
Danau Batur sendiri saat ini memiliki kedalaman rata-rata 50,8 meter, panjangnya 7,7 Km, lebar 2,7 Km, dengan volume air sebanyak 815,38 juta meter kubik. Selengkapnya...
Saat ini, para petani dan warga di Desa Songan, Desa Buahan, Desa Kedisan, Batur dan beberapa desa lainnya yang terletak di pinggir Danau Batur sibuk mengumpulkan bangkai ikan karena bau tak sedap. Jumlahnya sangat banyak.
Jenis ikan yang mati antara lain mujair, kaper, udang, dan sebagainya terpaung di atas danau dan mati mendadak. Bahkan, nelayan Danau Batur yang memiliki keramba penangkapan ikan hanya berhasil mengumpulkan ikan mati untuk dievakuasi ke darat.
Menurut Kepala Laboratorium Lingkungan Hidup Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Bali, Gede Suarjana, sekalipun belum ada uji laboratorium, kemungkinan ikan-ikan tersebut mati lantaran dipicu belerang berlebihan karena terjadinya gempa dengan skala kecil pada Gunung Batur.
Pantauan sementara di lapangan menunjukkan, warna air berubah menjadi keputih-putihan.
Menurut Suarjana perubahan tersebut terjadi gempa bumi pada Senin 20 Juni 2011 dini hari. "Dari penuturan warga, sempat terjadi gempa kecil di sana. Diduga gempa tersebut yang membuat sulfur dan belerang Gunung Batur turun ke danau dan menyebabkan ikan-ikan mati," tuturnya, Selasa 21 Juni 2011.
Bila perubahan warna air tersebut disebabkan letusan Gunung Batur, di dasar danau hampir dipastikan kekurangan oksigen bagi ikan dan hewan atau tumbuhan lainnya. Kekurangan oksigen tersebut akibat dari meningkatnya sulfurdioksida (So2) serta jenis-jenis logam lainnya.
Meningkatnya So2 disebabkan oleh kadar belerang yang tinggi, sehingga menyebabkan racun bagi ikan dan makluk hidup lainnya di danau. "Ini fenomena alam yang terjadi secara mendadak dan menyebabkan sulitnya makluk hidup untuk mendapatkan oksigen secara sempurna," ujarnya.
Penyebab lain kemungkinan besar, PH-nya rendah, keasaman meningkat dan ikan akan banyak yang mati. Kondisi ini juga bisa disebabkan oleh pencemaran limbah masyarakat, pakan ikan dari keramba nelayan yang membusuk dan sebagainya sehingga kandungan fosfor (f4) meningkat tajam.
"Namun, dari informasi lapangan yang diterima, kemungkinan besar akibat letusan gunung api yang terjadi dasar danau karena terjadi gempa sebelum perubahan warna air," ujarnya.
Sementara itu, dihubungi terpisah, Kepala Bidang Informasi dan Data BMKG Bali, Endro Tjahono mengatakan, dugaan gempa yang terjadi pada Gunung Batur tak tercatat pada pusat data di BMKG. "Saya sudah tanyakan kepada bagian Regional Gempa III. Ternyata, gempa yang dikatakan terjadi pada Gunung Batur tidak tercatat pada BMKG," katanya.
Endro menuturkan, gempa sendiri bisa terjadi karena beberapa faktor. Bisa karena pergeseran lempeng bumi, bisa karena pergerakan vulkanik pada gunung berapi dan juga gempa karena terjadinya reruntuhan akibat tambang.
"BMKG mencatat gempa, karena pergeseran lempeng bumi. Untuk di Gunung Batur, silakan hubungi Dirjen Vulkanologi. Mereka yang mencatatnya. Sekali lagi kami tegaskan, gempa di Gunung Batur tidak tercatat pada BMKG," ujar Endro.
Danau Batur sendiri saat ini memiliki kedalaman rata-rata 50,8 meter, panjangnya 7,7 Km, lebar 2,7 Km, dengan volume air sebanyak 815,38 juta meter kubik. Selengkapnya...
Telantarkan Anak, Walikota Batu Digugat Rp 12 Miliar
Malang: Walikota Batu, Eddy Rumpoko, kini digugat oleh mantan istrinya Aprillia Sulistyowati (51), senilai Rp 12 miliar. Gugatan tersebut dilayangkan Aprillia Sulistyowati melalui kuasa hukumnya Soemardhan, Selasa (21/6) ke Pengadilan Agama (PA) Kota Malang.
Dalam gugatan yang terdaftar di PA Kota Malang nomor 1014/pdt-6/2011/PA Malang itu, Eddy dituduh menelantarkan anaknya, Dila Fauzia (27). Dila adalah anak dari hasil pernikahan antara Aprillia dengan Eddy Rumpoko.
Menurut Soemardhan usai menyerahkan gugatan di PA Kota Malang, Eddy memang memiliki bukti pernah menikahi dengan Aprillia Sulistyowati, pada tahun 1983. Bukti pernikahan itu berupa akta nikah nomor 188/48/1983 yang dikeluarkan oleh Kantor Urusan Agama (KUA) Ngantang, Kabupaten Malang, tertanggal 29 Sya'ban 1403 H.
Selain itu, Aprillia juga menunjukkan akta kelahiran Dila Fauzia dan foto Eddy bersama Dilla Fauzia kala masih balita. Dila Fauzia itu lahir setelah usia perkawinan Eddy dengan Aprillia Sulistyowati satu tahun.
Kronologisnya, cerita Aprillia, pada tahun 1983, Eddy menikahi Aprillia Sulistyowati binti Slamet Sutardjo. Setelah setahun pernikahan, Aprillia yang kini tinggal di Perumahan Zona Neigh Berhood Blok NA22 Sawojajar II, Kota Malang, dikaruniahi anak bernama Dila Fauzia itu.
Bahkan, keluarga yang dikarunia anak ini sempat tinggal di rumah nenek Aprillia Sulistyowati ini di Jalan Kawi No 50 Kota Malang. Mereka tinggal bersama selama satu tahun. Sejak saat ini nasib Dila Fauzia tidak dinafkahi oleh Eddy Rumpoko.
Dari itu, Aprillia Sulistyowati menggugatnya. "Gugatan ini dilakukan karena setelah meminta konfirmasi untuk diselesaikan melalui jalan kekeluargaan tidak mendapat respon," kata Soemardhan.
Lebih lanjut Soemardhan menyampaikan, gugatannya sebesar Rp 12 miliar itu tidak berlebihan. Alasannya, gugatan yang diajukan Aprillia Sulistyowati itu berdasarkan data dan fakta yang ada.
Rincian dikalkualasinya, kata dia, berupa gugatan material dan immeterial. Gugatan material itu berupa nafkah untuk Dila Fauzia yang dihitung sejak lahir mulai dari biaya makan, minum, dan pemeliharaan hingga Eddy menjadi Wali Kota Batu.
Biaya per harinya sekitar Rp 150 ribu x 30 hari, x 12 bulan x 27 tahun. Sehingga, totalnya mencapai Rp 1,458 miliar. Di samping itu, Eddy juga digugat biaya kebutuhan untuk sekolah, pakaian, rekreasi dan lainnya sekitar Rp 500 juta serta biaya pengurusan perkara di PA Kota Malang sebesar Rp 10 juta.
Sedangkan gugatan immaterial, Aprillia Sulistyowati menggugat sebesar Rp 10 miliar. Sehingga, total gugatan yang diajukan baik material maupun immaterial sebesar Rp 12 miliar.
Karena itu, Aprillia Sulistyowati meminta Pengadilan AGama Kota Malang melakukan sita rumah milik Eddy Rumpoko di Jl Taman Dieng, II/1 Kota Malang. "Itu untuk menghindari kerugian yang terus berlanjut. Sebab, ibunya Dila Fauzia, Aprillia sudah menderita kerugian material an immaterial sebesar Rp 12 miliar," tegasnya. Selengkapnya...
Dalam gugatan yang terdaftar di PA Kota Malang nomor 1014/pdt-6/2011/PA Malang itu, Eddy dituduh menelantarkan anaknya, Dila Fauzia (27). Dila adalah anak dari hasil pernikahan antara Aprillia dengan Eddy Rumpoko.
Menurut Soemardhan usai menyerahkan gugatan di PA Kota Malang, Eddy memang memiliki bukti pernah menikahi dengan Aprillia Sulistyowati, pada tahun 1983. Bukti pernikahan itu berupa akta nikah nomor 188/48/1983 yang dikeluarkan oleh Kantor Urusan Agama (KUA) Ngantang, Kabupaten Malang, tertanggal 29 Sya'ban 1403 H.
Selain itu, Aprillia juga menunjukkan akta kelahiran Dila Fauzia dan foto Eddy bersama Dilla Fauzia kala masih balita. Dila Fauzia itu lahir setelah usia perkawinan Eddy dengan Aprillia Sulistyowati satu tahun.
Kronologisnya, cerita Aprillia, pada tahun 1983, Eddy menikahi Aprillia Sulistyowati binti Slamet Sutardjo. Setelah setahun pernikahan, Aprillia yang kini tinggal di Perumahan Zona Neigh Berhood Blok NA22 Sawojajar II, Kota Malang, dikaruniahi anak bernama Dila Fauzia itu.
Bahkan, keluarga yang dikarunia anak ini sempat tinggal di rumah nenek Aprillia Sulistyowati ini di Jalan Kawi No 50 Kota Malang. Mereka tinggal bersama selama satu tahun. Sejak saat ini nasib Dila Fauzia tidak dinafkahi oleh Eddy Rumpoko.
Dari itu, Aprillia Sulistyowati menggugatnya. "Gugatan ini dilakukan karena setelah meminta konfirmasi untuk diselesaikan melalui jalan kekeluargaan tidak mendapat respon," kata Soemardhan.
Lebih lanjut Soemardhan menyampaikan, gugatannya sebesar Rp 12 miliar itu tidak berlebihan. Alasannya, gugatan yang diajukan Aprillia Sulistyowati itu berdasarkan data dan fakta yang ada.
Rincian dikalkualasinya, kata dia, berupa gugatan material dan immeterial. Gugatan material itu berupa nafkah untuk Dila Fauzia yang dihitung sejak lahir mulai dari biaya makan, minum, dan pemeliharaan hingga Eddy menjadi Wali Kota Batu.
Biaya per harinya sekitar Rp 150 ribu x 30 hari, x 12 bulan x 27 tahun. Sehingga, totalnya mencapai Rp 1,458 miliar. Di samping itu, Eddy juga digugat biaya kebutuhan untuk sekolah, pakaian, rekreasi dan lainnya sekitar Rp 500 juta serta biaya pengurusan perkara di PA Kota Malang sebesar Rp 10 juta.
Sedangkan gugatan immaterial, Aprillia Sulistyowati menggugat sebesar Rp 10 miliar. Sehingga, total gugatan yang diajukan baik material maupun immaterial sebesar Rp 12 miliar.
Karena itu, Aprillia Sulistyowati meminta Pengadilan AGama Kota Malang melakukan sita rumah milik Eddy Rumpoko di Jl Taman Dieng, II/1 Kota Malang. "Itu untuk menghindari kerugian yang terus berlanjut. Sebab, ibunya Dila Fauzia, Aprillia sudah menderita kerugian material an immaterial sebesar Rp 12 miliar," tegasnya. Selengkapnya...
Memalukan, Tujuh TKI Asal Lombok Merampok di Brunei
Lombok Timur: Dubes RI untuk Brunei Darussalam Handriyo Kusumo Priyo mengatakan tujuh orang tenaga kerja Indonesia asal Lombok, Nusa Tenggara Barat, terlibat kasus dugaan perampokan terhadap salah seorang mantan pejabat penting di negara tersebut.
"Kepolisian Brunei Darussalam saat ini masih mengejar para TKI yang terlibat perampokan itu," kata Dubes saat berkunjung ke Lombok Timur, Selasa (21/6).
Ia mengatakan, KBRI Bandar Seri Begawan sekarang sedang mengurus kasus kriminal yang melibatkan TKI tersebut. "Kami sangat menyayangkan apa yang dilakukan oleh para TKI di Brunei tersebut," katanya.
Menurut Dubes, setelah merampok mantan pejabat penting di Brunei, mereka langsung kabur melarikan diri. "Kita harus tunduk pada proses hukum yang berlaku di Brunei, tidak bisa melakukan intervensi terhadap proses hukumnya," kata dia.
Ia menambahkan, tujuh orang TKI yang melakukan tindakan kriminal itu merupakan bagian dari 785 orang TKI asal Lombok yang berada di Brunei Darussalam. "Jumlah WNI di Brunei mencapai 10 persen dari jumlah penduduk negara itu, atau sekitar 52 ribu orang," katanya.
Menurut dia, pada 2010 jumlah kasus hukum yang ditangani KBRI Bandar Seri Begawan sebanyak 694 kasus, berhasil diselesaikan 646 kasus, sisanya masih menjalani proses hukum.
"Setelah kasusnya selesai, 529 orang memilih pulang dan 117 kembali bekerja. Kami menempuh dua jalur penyelesaian, yakni proses pengadilan atau perdamainan," ujar Handriyo.
Para TKI di Brunei, kata dia, paling banyak bermasalah mereka yang bekerja di sektor informal seperti pembantu rumah tangga dan supir. Masalah yang timbul antara lain TKI tidak menjalankan kontrak kerja yang tidak mereka pahami sepenuhnya.
"Kasus yang melibatkan TKI ini merupakan tantangan bagi pemerintah untuk memberikan perlindungan kepada warganya baik yang menjadi TKI maupun tidak," katanya. Selengkapnya...
"Kepolisian Brunei Darussalam saat ini masih mengejar para TKI yang terlibat perampokan itu," kata Dubes saat berkunjung ke Lombok Timur, Selasa (21/6).
Ia mengatakan, KBRI Bandar Seri Begawan sekarang sedang mengurus kasus kriminal yang melibatkan TKI tersebut. "Kami sangat menyayangkan apa yang dilakukan oleh para TKI di Brunei tersebut," katanya.
Menurut Dubes, setelah merampok mantan pejabat penting di Brunei, mereka langsung kabur melarikan diri. "Kita harus tunduk pada proses hukum yang berlaku di Brunei, tidak bisa melakukan intervensi terhadap proses hukumnya," kata dia.
Ia menambahkan, tujuh orang TKI yang melakukan tindakan kriminal itu merupakan bagian dari 785 orang TKI asal Lombok yang berada di Brunei Darussalam. "Jumlah WNI di Brunei mencapai 10 persen dari jumlah penduduk negara itu, atau sekitar 52 ribu orang," katanya.
Menurut dia, pada 2010 jumlah kasus hukum yang ditangani KBRI Bandar Seri Begawan sebanyak 694 kasus, berhasil diselesaikan 646 kasus, sisanya masih menjalani proses hukum.
"Setelah kasusnya selesai, 529 orang memilih pulang dan 117 kembali bekerja. Kami menempuh dua jalur penyelesaian, yakni proses pengadilan atau perdamainan," ujar Handriyo.
Para TKI di Brunei, kata dia, paling banyak bermasalah mereka yang bekerja di sektor informal seperti pembantu rumah tangga dan supir. Masalah yang timbul antara lain TKI tidak menjalankan kontrak kerja yang tidak mereka pahami sepenuhnya.
"Kasus yang melibatkan TKI ini merupakan tantangan bagi pemerintah untuk memberikan perlindungan kepada warganya baik yang menjadi TKI maupun tidak," katanya. Selengkapnya...
Polri Selidik Rekening Gendut Oknum Pejabat Daerah
Jakarta: Kepala Kepolisian RI (Kapolri) Jenderal Timur Pradopo mengatakan, tengah menindaklanjuti laporan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksasi Keuangan (PPATK) terkait rekening mencurigakan oknum di pemerintah daerah.
"Semuanya tentu perlu penyelidikan, artinya itu semua kan tercatat, sehingga perlu pendalaman, ada pelanggaran hukum atau tidak, saya kira itu," kata Timur di PTIK, Jakarta, Selasa (21/6/2011).
Tindak lanjut dugaan kepemilikan uang oleh oknum pemerintah daerah dalam jumlah tidak wajar ini, masih dalam tingkat penyelidikan. Artinya polisi belum masuk pada ranah penyidikan kasus, karena masih melakukan pencarian bukti adanya dugaan korupsi.
PPATK telah menyetorkan hasil temuannya sebanyak 2.300 rekening mencurigakan milik para oknum pemerintahan daerah, namun Timur mengatakan laporan rekening mencurigakan yang diterimanya, tidak hanya milik oknum pemerintah daerah. "Saya kira bukan hanya itu saja, semua yang terkait rekening mencurigakan pasti disampaikan kepada aparat polisi," kata Timur.
Lalu apakah ada juga oknum pejabat di pemerintah pusat yang juga memiliki rekening mencurigakan? "Saya kira semua ada, tentunya itu belum tentu betul, bagian dari pada tugas polisi untuk menelusurinya," pungkas Timur. Selengkapnya...
"Semuanya tentu perlu penyelidikan, artinya itu semua kan tercatat, sehingga perlu pendalaman, ada pelanggaran hukum atau tidak, saya kira itu," kata Timur di PTIK, Jakarta, Selasa (21/6/2011).
Tindak lanjut dugaan kepemilikan uang oleh oknum pemerintah daerah dalam jumlah tidak wajar ini, masih dalam tingkat penyelidikan. Artinya polisi belum masuk pada ranah penyidikan kasus, karena masih melakukan pencarian bukti adanya dugaan korupsi.
PPATK telah menyetorkan hasil temuannya sebanyak 2.300 rekening mencurigakan milik para oknum pemerintahan daerah, namun Timur mengatakan laporan rekening mencurigakan yang diterimanya, tidak hanya milik oknum pemerintah daerah. "Saya kira bukan hanya itu saja, semua yang terkait rekening mencurigakan pasti disampaikan kepada aparat polisi," kata Timur.
Lalu apakah ada juga oknum pejabat di pemerintah pusat yang juga memiliki rekening mencurigakan? "Saya kira semua ada, tentunya itu belum tentu betul, bagian dari pada tugas polisi untuk menelusurinya," pungkas Timur. Selengkapnya...
Andong Malioboro Bakal Dipasangi Popok
Yogyakarta: Mengatasi bau pesing di kawasan Malioboro Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta berencana memasang popok air kencing untuk kuda penarik andong di kawasan itu. Dengan dipasangi popok, air kencing kuda bisa ditampung dan tidak menyebabkan bau pesing di Malioboro.
Kepala Dinas Pemukiman dan Prasarana Wilayah (Kimpraswil) Kota Yogyakarta, Toto Suroto, Senin (20/6) mengatakan pengunjung sering kali mengeluhkan kawasan Malioboro karena bau pesing.
"Banyak yang menyangka toilet umum yang pesing. Tapi kami amati bau pesing di sisi utara Malioboro ini juga karena kencing kuda yang sering mangkal," jelas Toto.
Solusi menghilangkan bau pesing di kawasan ini, katanya salah satunya dengan memasangi popok air kencing kuda penarik andong. "Kami sudah koordinasi dengan Dinas Perhubungan, Dinas Pariwisata untuk rencana ini," tuturnya.
Saat ini kuda penarik andong baru dipasangi penampung kotoran. Selain memasangi popok, katanya, Pemkot juga akan mengusulkan kuda betika yang digunakan menarik andong.
"Secara teknis kuda betina lebih mudah diberi popok, kami masih mengkaji dan segera berkonsultasi dengan Fakultas peternakan soal ini," ujarnya.
Terkait keluhan bau pesing di Malioboro, Komisi C DPRD bersama Dinas Kimpraswil dan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Yogyakarta, kemarin pagi mengecek kondisi bau pesing di kawasan Malioboro.
Anggota Komisi C DPRD Kota Yogyakarta, Bambang Seno Baskoro, mengatakan, pengecekan itu, sebagai tindak lanjut keluhan bau pesing dari beberapa pihak.
"Kawasan ini merupakan tujuan wisata dan ikon Yogyakarta. Kami bermaksud mengecek bau pesing yang dikeluhkan dan mencari penyebabnya untuk kami tindak lanjuti termasuk toilet dan kencing kuda yang menjadi penyebab bau pesing di kawasan ini," tutur Bambang.
Bambang berujar, bau pesing di kawasan ini harus ditangani. Mengingat, Malioboro merupakan kawasan ikon wisata Yogyakarta.
Ia mengatakan, toilet kelihatannya remeh temeh. Namun toilet merupakan kebutuhan penting. "Jangan sampai wisatawan mau kencing tidak nyaman karena bau," katanya.
Selama ini, empat toilet umum sudah dibangun di sepanjang malioboro. Terakhir Pemkot menyediakan toilet umum di titik nol kilometer. "Kami cek juga apa benar toilet itu menyebabkan bau pesing," jelasnya.
Rencana Pemkot memberikan popok penampung air kencing kuda disambut baik oleh penarik andong. Sihono (40) kusir andong di Malioboro menuturkan selama ini kuda hanya diberi penampung kotoran dari bahan vinil. Yang menjadi masalah, katanya, kencing kuda memang belum dipasang penampung. "Ya memang butuh popok supaya air kencing tidak jatuh di jalanan," jelasnya. Selengkapnya...
Kepala Dinas Pemukiman dan Prasarana Wilayah (Kimpraswil) Kota Yogyakarta, Toto Suroto, Senin (20/6) mengatakan pengunjung sering kali mengeluhkan kawasan Malioboro karena bau pesing.
"Banyak yang menyangka toilet umum yang pesing. Tapi kami amati bau pesing di sisi utara Malioboro ini juga karena kencing kuda yang sering mangkal," jelas Toto.
Solusi menghilangkan bau pesing di kawasan ini, katanya salah satunya dengan memasangi popok air kencing kuda penarik andong. "Kami sudah koordinasi dengan Dinas Perhubungan, Dinas Pariwisata untuk rencana ini," tuturnya.
Saat ini kuda penarik andong baru dipasangi penampung kotoran. Selain memasangi popok, katanya, Pemkot juga akan mengusulkan kuda betika yang digunakan menarik andong.
"Secara teknis kuda betina lebih mudah diberi popok, kami masih mengkaji dan segera berkonsultasi dengan Fakultas peternakan soal ini," ujarnya.
Terkait keluhan bau pesing di Malioboro, Komisi C DPRD bersama Dinas Kimpraswil dan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Yogyakarta, kemarin pagi mengecek kondisi bau pesing di kawasan Malioboro.
Anggota Komisi C DPRD Kota Yogyakarta, Bambang Seno Baskoro, mengatakan, pengecekan itu, sebagai tindak lanjut keluhan bau pesing dari beberapa pihak.
"Kawasan ini merupakan tujuan wisata dan ikon Yogyakarta. Kami bermaksud mengecek bau pesing yang dikeluhkan dan mencari penyebabnya untuk kami tindak lanjuti termasuk toilet dan kencing kuda yang menjadi penyebab bau pesing di kawasan ini," tutur Bambang.
Bambang berujar, bau pesing di kawasan ini harus ditangani. Mengingat, Malioboro merupakan kawasan ikon wisata Yogyakarta.
Ia mengatakan, toilet kelihatannya remeh temeh. Namun toilet merupakan kebutuhan penting. "Jangan sampai wisatawan mau kencing tidak nyaman karena bau," katanya.
Selama ini, empat toilet umum sudah dibangun di sepanjang malioboro. Terakhir Pemkot menyediakan toilet umum di titik nol kilometer. "Kami cek juga apa benar toilet itu menyebabkan bau pesing," jelasnya.
Rencana Pemkot memberikan popok penampung air kencing kuda disambut baik oleh penarik andong. Sihono (40) kusir andong di Malioboro menuturkan selama ini kuda hanya diberi penampung kotoran dari bahan vinil. Yang menjadi masalah, katanya, kencing kuda memang belum dipasang penampung. "Ya memang butuh popok supaya air kencing tidak jatuh di jalanan," jelasnya. Selengkapnya...
Langganan:
Postingan (Atom)






